Washington, D.C. – Kurang dari sebulan setelah India sepakat untuk menghentikan pembelian minyak Rusia sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat, kini Washington memberikan izin bagi India untuk melanjutkan pembelian tersebut. Langkah ini diambil di tengah laporan bahwa AS mungkin akan melonggarkan sanksi-sanksi lainnya terhadap Moskow.
Pembatalan Sanksi dan Dampaknya
Keputusan pemerintahan Trump untuk melonggarkan sanksi terhadap penjualan minyak Rusia ke India bertujuan untuk mengatasi masalah pasokan yang mungkin terjadi. Pada hari Kamis (5 Maret), gedung putih mengumumkan pemberian pengecualian selama 30 hari yang memungkinkan pabrik pengolahan minyak India untuk kembali membeli minyak Rusia.
Menanggapi kebijakan ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan, “Untuk mengatasi kesenjangan sementara pasokan minyak di seluruh dunia, kami telah memberi mereka izin untuk menerima minyak Rusia. Kami mungkin juga akan mencabut sanksi terhadap minyak Rusia lainnya,” ujarnya kepada Fox News.
Perubahan Kebijakan yang Signifikan
Pelonggaran sanksi ini menunjukkan perubahan kebijakan yang signifikan. Ketika Presiden Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi mengumumkan kesepakatan perdagangan bulan lalu, salah satu komponen utama dari kesepakatan tersebut adalah India setuju untuk menghentikan pembelian minyak dari Rusia. Trump sebelumnya telah mengkritik pembelian India dari Moskow secara terbuka.
Bessent menyebut pelonggaran ini sebagai langkah sementara yang bertujuan untuk “meringankan tekanan yang ditimbulkan oleh upaya Iran untuk mengeksploitasi pasar energi global.” Namun, lonjakan harga minyak yang tajam telah mendorong AS dan anggota G7 lainnya untuk mempertimbangkan cara-cara lain untuk mengatasi dampak harga yang meningkat. Harga minyak sempat mencapai $119 per barel, tertinggi sejak 2022, sebelum kembali turun di bawah $110.
Faktor Di Balik Perubahan Kebijakan AS
Lonjakan harga minyak ini terjadi setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, yang menyebabkan pasokan minyak di Selat Hormuz, jalur strategis vital, terhambat. Mengingat posisi India sebagai importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia, AS berusaha mengurangi tekanan pasokan dan harga dengan mengizinkan India untuk melanjutkan pembelian minyak Rusia yang sudah tersedia di pasar global.
Pemberian lisensi sementara kepada pabrik pengolahan India mencakup minyak mentah dan produk petroleum Rusia yang sudah dimuat ke kapal sebelum 5 Maret, asalkan dikirim ke India dan dibeli oleh perusahaan India.
Pandangan Para Ahli
Menurut Ben Hilgenstock, seorang spesialis sanksi terhadap Rusia dari Kyiv School of Economics, “Pemerintah AS hanya mencari solusi cepat untuk masalah harga minyak global. Minyak Rusia yang sudah beredar jelas merupakan kandidat utama untuk itu.” Bessent menambahkan bahwa langkah “sementara” ini akan membantu India tanpa secara signifikan meningkatkan keuntungan bagi Kremlin. “Langkah jangka pendek ini tidak akan memberikan manfaat finansial yang signifikan bagi pemerintah Rusia karena hanya mengizinkan transaksi yang melibatkan minyak yang sudah terjebak di laut,” katanya.
Dampak bagi India dan Pasar Global
Sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, India bukanlah pembeli minyak Rusia yang signifikan. Namun, setelah harga minyak Rusia menjadi jauh lebih murah di pasar internasional, India meningkatkan pembeliannya. Meskipun demikian, New Delhi sepakat untuk mengurangi pembelian tersebut awal tahun ini di tengah tekanan berkelanjutan dari pemerintahan Trump. Hilgenstock mencatat bahwa keputusan itu dibuat lebih mudah karena pada saat itu, harga minyak global sedang rendah dan India masih dapat memperoleh opsi lain yang relatif murah selain dari Rusia.
Kesenjangan kebijakan ini menunjukkan bahwa pasar minyak global masih dalam situasi yang sangat dinamis dan tidak stabil. Saat ini, dengan pelonggaran sanksi, kemungkinan besar India akan kembali membeli minyak Rusia, yang dapat mempengaruhi pasar minyak global dan harga di Indonesia.
Kesimpulan
Pelonggaran sanksi oleh AS terhadap minyak Rusia menunjukkan perubahan kebijakan yang dapat memberikan dampak signifikan bagi pasar energi global. Dengan India yang kembali diizinkan membeli minyak Rusia, perhatian kini beralih kepada bagaimana hal ini akan mempengaruhi dinamika pasar minyak, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung. Bagi Indonesia, yang juga bergantung pada pasokan energi global, perkembangan ini patut untuk dicermati.


