Belgrade, Serbia – Kekhawatiran semakin meningkat mengenai keberadaan media independen di Serbia, terutama setelah United Group, yang sebelumnya dianggap kritis terhadap Presiden Aleksandar Vucic, menjalin kesepakatan dengan perusahaan telekomunikasi milik negara. Hal ini memunculkan tanda tanya tentang kemungkinan perubahan sikap media tersebut.
Brent Sadler, seorang jurnalis berpengalaman, kini terlibat dalam perjuangan yang berbeda. Pria berusia 75 tahun ini baru-baru ini diangkat sebagai Kepala Eksekutif Berita di Adria News Network (ANN), sebuah struktur baru dalam grup media dan telekomunikasi yang terdaftar di Belanda, United Group. Dalam perannya, Sadler akan mengawasi sejumlah saluran media UG di bekas wilayah Yugoslavia.
Di Serbia, tantangan ini menjadi signifikan karena ANN mengelola stasiun televisi N1 dan Nova S, surat kabar harian Danas, serta majalah mingguan Radar. Seluruhnya dikenal kritis terhadap pemerintah di Belgrade, khususnya terhadap Presiden Vucic yang otoriter.
Tuduhan Terhadap Vucic dan Partai SNS
Para kritikus menuduh Vucic dan Partai Progresif Serbia (SNS) yang dipimpinnya telah memonopoli negara, memberikan pekerjaan berdasarkan favoritisme partai, membangun sistem korupsi, dan memanipulasi pemilu. Ketika mahasiswa di Serbia mulai menuntut pemilihan baru pada akhir 2024, media UG menjadi semakin penting sebagai salah satu dari sedikit saluran di Serbia — bersama media sosial — yang dapat menyuarakan kritik terhadap Vucic.
Namun, kekhawatiran ini semakin diperkuat setelah adanya rekaman percakapan antara CEO United Group dan CEO Telekom Serbia yang dipublikasikan musim panas lalu. Dalam percakapan tersebut, mereka membahas bisnis di Serbia, yang menambah kecurigaan tentang adanya kolusi antara pemerintah dan media.
Kesepakatan dengan Telekom Serbia
Sejak awal tahun lalu, keraguan terhadap masa depan UG sudah mulai muncul. Meskipun media ini mempertahankan N1 dan Nova S, mereka menjual aset telekomunikasi Serbia, termasuk penyedia kabel SBB, dan menyerahkan semua hak siaran olahraga kepada Telekom milik negara. Akibatnya, kompetitor terbesar mereka menjadi monopoli olahraga televisi, tidak hanya di Serbia tetapi juga di negara-negara tetangga.
Telekom Serbia sendiri dianggap sebagai instrumen utama Vucic dalam mendominasi pasar media. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini telah menginvestasikan sekitar €2 miliar (sekitar $2,32 miliar) untuk hak siar olahraga, akuisisi operator kecil, dan pendanaan stasiun penyiaran pro-pemerintah. Di banyak saluran ini, seperti tabloid TV Informer, para mahasiswa yang protes dan kritikus pemerintah dicap sebagai “tentara bayaran asing”, “pengkhianat”, atau “Nazi”, sementara protes secara keseluruhan digambarkan sebagai “revolusi warna” yang diduga dikendalikan oleh Barat.
Harapan untuk Kebebasan Berita
Editor-in-chief dari UG Media di Serbia menunjukkan optimisme yang hati-hati. “Kami telah mendengar dari manajemen baru bahwa mereka menjamin independensi editorial — dan itu adalah yang paling sedikit yang kami harapkan,” ujar Slobodan Georgiev, kepala berita di Nova S. Namun, di balik layar, suasananya sedikit berbeda. “Tidak ada kepanikan di antara kami, tidak ada yang terburu-buru mencari pekerjaan baru. Tapi kami tetap berusaha untuk menjaga profil rendah,” ungkap seorang jurnalis yang meminta untuk tetap anonim.
Konteks Situasi Media di Serbia
Dalam konteks yang lebih luas, situasi media di Serbia menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh kebebasan pers di seluruh kawasan Balkan Barat, di mana kontrol politik sering kali mengancam keberadaan media independen. Oleh karena itu, perkembangan ini sangat penting untuk diperhatikan, baik bagi masyarakat Serbia maupun bagi komunitas internasional yang peduli terhadap kebebasan berpendapat.
Kesimpulannya, masa depan media independen di Serbia berada pada titik kritis. Dengan tekanan yang meningkat dari pemerintah dan kekhawatiran akan hilangnya keberagaman suara dalam media, penting bagi masyarakat untuk terus memantau dan mendukung keberadaan media yang bebas dan independen untuk menjamin demokrasi yang sehat.


