Apakah Trump Bisa Dapatkan Kesepakatan Iran yang Lebih Baik dari Obama?
Kesepakatan nuklir Iran tahun 2015, yang bertujuan membatasi program nuklir Tehran, terhenti setelah penarikan diri Amerika Serikat. Kini, setelah bertahun-tahun diplomasi yang gagal dan 40 hari konflik, pembicaraan kembali dilanjutkan. Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa ia dapat menghasilkan kesepakatan yang “lebih baik” dibandingkan yang diraih oleh mantan Presiden Barack Obama.
Program nuklir Iran telah menjadi sumber ketegangan antara AS dan Republik Islam tersebut selama lebih dari dua dekade. Washington menuduh Tehran berusaha mengembangkan senjata nuklir, sesuatu yang ingin dicegah dengan segala cara. Sementara itu, Iran membantah tuduhan tersebut, tetapi tetap menekankan haknya untuk memiliki program nuklir sipil.
Konteks Sejarah Kesepakatan 2015
Pada tahun 2015, AS dan Iran mencapai kompromi penting setelah lebih dari 10 tahun negosiasi. Kesepakatan nuklir yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) ini dirancang untuk membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi. Namun, kesepakatan ini runtuh setelah AS menarik diri pada tahun 2018.
Trump, yang menarik diri dari kesepakatan tersebut selama masa jabatannya yang pertama, mengklaim bahwa ia dapat mengamankan perjanjian yang lebih baik dibandingkan yang ditawarkan Obama. Pertanyaannya, apakah kesepakatan baru dapat lebih jauh dari sebelumnya, ataukah kondisi diplomasi saat ini jauh lebih sulit dibandingkan tahun 2015?
Apa yang Dicapai oleh Kesepakatan 2015?
Setelah 20 bulan negosiasi, Iran dan AS sepakat pada bulan Juli 2015, yang melibatkan Rusia, China, dan Uni Eropa, dipimpin oleh Prancis, Jerman, dan Inggris. Kesepakatan ini secara signifikan memperlambat kemampuan Iran untuk memproduksi bahan fisil yang diperlukan untuk senjata nuklir, yang dikenal sebagai “waktu breakout”, dari sekitar dua hingga tiga bulan menjadi sekitar satu tahun.
JCPOA juga memberikan akses luas kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memeriksa fasilitas nuklir Iran. Sebagai balasan, sanksi ekonomi internasional terhadap Iran dicabut. Kesepakatan ini mulai berlaku pada Januari 2016 setelah IAEA mengonfirmasi bahwa Iran mematuhi ketentuan yang disepakati.
Keberhasilan dan Keterbatasan Kesepakatan
Menurut Oliver Meier, seorang ahli disarmament nuklir, IAEA mendapatkan akses yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memantau kegiatan nuklir Iran. “Ini membatasi jumlah sentrifugal dan jenis sentrifugal yang digunakan Iran, serta mengurangi stok bahan fisil di dalam Iran,” ujarnya. Namun, Meier menambahkan, “semua ini bersifat terbatas waktu. Beberapa pembatasan seharusnya berakhir setelah 10 atau 15 tahun, dengan asumsi kepercayaan internasional telah terbangun kembali.”
Namun, JCPOA juga memiliki batasan yang jelas. Kesepakatan ini tidak membatasi program misil balistik Iran dan tidak mengaddress peran Tehran dalam konflik regional, termasuk dukungannya terhadap kelompok-kelompok seperti Hezbollah di Lebanon.
Perubahan Dinamika dan Tantangan Baru
Ketika Trump menjabat pada Januari 2017, ia menyebut JCPOA sebagai “kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan” dan menarik AS dari perjanjian tersebut setahun kemudian. Pemerintahan Trump mengembalikan sanksi yang ketat, berargumen bahwa tekanan ekonomi akan memaksa Iran untuk menerima kesepakatan yang lebih luas dan ketat.
Setelah penarikan AS, Iran awalnya tetap dalam kesepakatan, berharap para penandatangan lainnya dapat mengimbangi sanksi AS. Namun seiring waktu, Tehran mulai melanggar ketentuan-ketentuan yang ada.
Kesimpulan
Dengan pembicaraan yang kembali dibuka setelah konflik baru, tantangan bagi Trump adalah apakah dia dapat mencapai kesepakatan yang lebih baik dari Obama. Di tengah ketegangan yang telah berkembang selama bertahun-tahun, waktu dan kondisi saat ini menjadi elemen penting dalam upaya meraih kesepakatan yang lebih permanen dan stabil.









