Partai Hukum dan Keadilan (PiS) Polandia, yang dikenal sebagai populis, menghadapi tantangan besar ketika mereka kehilangan dukungan pemilih ke arah ekstrem kanan. Untuk mengatasi tren ini, Przemyslaw Czarnek, seorang tokoh konservatif Katolik, telah ditunjuk sebagai calon utama untuk pemilihan parlemen 2027 mendatang.
Setelah berbulan-bulan spekulasi, PiS akhirnya mengumumkan Czarnek sebagai pemimpin baru mereka dalam upaya menghadapi pemilihan parlemen yang akan datang. Czarnek, seorang profesor hukum berusia 48 tahun dan veteran partai, diperkenalkan di konvensi PiS di Krakow pada hari Sabtu. Sejak 2025, ia telah menjabat sebagai wakil ketua partai dan sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Polandia dari 2020 hingga 2023. Pada masa itu, reformasi yang diusulkannya memicu protes besar-besaran, dengan universitas-universitas menuduh Czarnek melanggar kebebasan akademik.
Pernyataan Czarnek dan Agenda Nasionalis
Dalam pidato perdananya sebagai calon utama partai, Czarnek menyatakan ambisinya untuk menjadi “mesin penggerak kereta peluru yang berjalan mulus,” dengan Jaroslaw Kaczynski sebagai nakhoda. Ia juga menyerang Perdana Menteri Donald Tusk, yang merupakan pemimpin pro-Eropa, yang telah berkuasa sejak 2023.
“Kami ingin menjaga Polandia yang autentik,” ujarnya, seperti dilansir oleh kantor berita Polandia PAP. “Polandia yang sejati ini ingin kami kembalikan kepada rakyat Polandia, agar setiap orang Polandia yang biasa dapat sekali lagi menjadi warga negara dari negerinya sendiri.”
Kritik terhadap Kebijakan Iklim dan Keluarga Tradisional
Czarnek juga mengkritik kebijakan iklim Uni Eropa, terutama sistem perdagangan emisi, dengan menegaskan bahwa dasar keamanan energi Polandia adalah batubara Polandia. Ia membandingkan “proyek kiri di Brussels” dengan “Polandia yang nyata dan normal.”
Ia mengulangi pandangannya yang banyak dikritik terhadap isu LGBTQ+, menegaskan bahwa sebuah keluarga “normal” terdiri dari seorang pria dan wanita, serta kakek dan nenek. Mengolok-olok pernikahan sesama jenis, ia bertanya, “Mengapa pernikahan hanya melibatkan dua pria, mengapa tidak tiga atau empat?”
Czarnek juga menggambarkan citra konservatif nasionalis tentang perempuan sebagai “ibu yang mendidik anak-anak mereka untuk menjadi patriot,” dengan harapan untuk membalikkan krisis demografi Polandia yang terus berlanjut. Pada tahun 2025, angka kelahiran di negara tersebut mencapai titik terendah sejak akhir Perang Dunia II.
Tanggapan dan Tantangan dari Partai Lain
Menanggapi penunjukan PiS terhadap Czarnek, Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski dari Koalisi Sipil yang dipimpin Tusk menyebut Czarnek sebagai calon yang “baik” untuk posisi perdana menteri. “Bukan di Polandia, tetapi di Afghanistan, di mana pandangannya tentang pendidikan dan hak perempuan sudah diterapkan,” sindirnya.
Olgierd Annusewicz, seorang ilmuwan politik di Universitas Warsawa, menjelaskan bahwa mengingat penurunan popularitas PiS yang signifikan, tujuan utama partai adalah mendapatkan kembali suara dari pemilih kanan. “Czarnek dapat melakukan itu,” tuturnya.
Selama bertahun-tahun, PiS tidak memiliki kompetisi dari kanan. Namun kini, dua kelompok ekstrem kanan muncul sebagai tantangan bagi partai Kaczynski. Pada pemilihan parlemen 2023, PiS memperoleh 35% suara, namun kini dukungan terhadap partai tersebut turun menjadi sekitar 20%, sama dengan total dukungan dua partai ekstrem kanan tersebut.
Kesimpulan
Jika PiS gagal mencapai mayoritas solid dalam pemilihan 2027, partai ini mungkin akan menghadapi tantangan serius baik secara politik maupun dalam kebijakan. Perkembangan ini penting untuk diikuti, terutama bagi mereka yang tertarik pada dinamika politik Eropa dan implikasinya terhadap kebijakan yang berdampak pada kawasan, termasuk Indonesia yang juga menghadapi isu serupa dalam konteks lokal.


