Hari Perempuan Internasional: Kesetaraan di Tempat Kerja Butuh Aksi

Kesetaraan gender di tempat kerja dan tantangannya di Jerman

Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tahun menjadi momentum untuk menyoroti isu-isu penting mengenai kesetaraan gender, terutama di tempat kerja. Di Jerman, perempuan yang ingin berkarir sambil membangun keluarga masih menghadapi tantangan sistemik yang cukup besar. Jutta Allmendinger, seorang sosiolog ternama asal Jerman, melihat harapan di masa depan dengan adanya negara-negara seperti Islandia yang menjadi teladan dalam hal ini.

Tantangan Kesetaraan di Jerman

Banyak pasangan muda di Jerman menginginkan agar keduanya dapat bekerja, menghabiskan waktu dengan anak, dan berbagi tanggung jawab rumah tangga. Namun, dalam praktiknya, pola tradisional masih sering terjadi. Perempuan masih jauh lebih mungkin untuk bekerja paruh waktu, sementara pria lebih sering menjadi pencari nafkah utama.

Data terbaru mengenai kesenjangan gaji gender dari Badan Statistik Federal Jerman menunjukkan bahwa kesenjangan ini tetap lebar. Menurut Allmendinger, ketidaksetaraan ini bukan karena kurangnya niat baik. Sebagai profesor kehormatan di Universitas Bebas Berlin dan anggota beberapa badan penasihat, termasuk Dewan Etika Jerman, ia mengungkapkan, “Ketika kami bertanya kepada pasangan tentang apa yang akan terjadi jika mereka memiliki anak sekarang, 80% pria mengatakan mereka akan mengurangi jam kerja dan ingin membagi tanggung jawab secara merata. Namun, pada kenyataannya, sering kali berbeda.”

Insentif Keuangan yang Menyesatkan

Ada beberapa alasan mengapa pembagian tugas tradisional dalam rumah tangga tetap bertahan. Salah satunya adalah fakta bahwa pria masih rata-rata mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini membuat perempuan lebih cenderung mengambil cuti orang tua atau beralih ke pekerjaan paruh waktu, yang pada gilirannya mengurangi kemungkinan mereka untuk naik ke posisi kepemimpinan. Selain itu, sistem perpajakan Jerman juga lebih menguntungkan bagi pasangan menikah di mana satu mitra memiliki penghasilan jauh lebih tinggi dari yang lain. Allmendinger menjelaskan, “Ini menyebabkan pasangan membagi tanggung jawab mereka berdasarkan aturan pajak, bukan berdasarkan prinsip keadilan yang telah mereka sepakati.”

Pentingnya Tindakan Kebijakan

Menurut Allmendinger, inilah saatnya bagi pembuat kebijakan untuk bertindak. Jika tujuan sebenarnya adalah kesetaraan, maka insentif perpajakan semacam itu perlu dihapuskan. Kritik terhadap pendekatan Jerman dalam membagi penghasilan pasangan menikah telah menjadi perdebatan hangat dalam beberapa tahun terakhir.

Peran Model Peran

Dalam hal kesetaraan gender, Jerman menunjukkan perbedaan yang jelas antara Jerman Timur dan Barat. Di negara bagian Jerman Timur, yang dulu merupakan Republik Demokratik Jerman (GDR), lebih sedikit perempuan yang bekerja paruh waktu, dan jeda karir cenderung lebih singkat meskipun dengan tantangan struktural yang biasa. Menurut Allmendinger, kebiasaan budaya berperan besar di sini. “Di Jerman Barat, model yang umum adalah pernikahan dengan satu pencari nafkah. Keluarga yang ‘baik’ adalah yang suaminya bekerja dan istrinya tidak perlu bekerja — dengan penekanan pada ‘tidak perlu.'” Sebaliknya, di Jerman Timur, adalah hal yang normal dan diterima secara sosial bagi kedua orang tua untuk bekerja, dan warisan ini masih membentuk pilihan saat ini.

Perbedaan ini juga tampak dalam pensiun. Perempuan di Jerman Timur cenderung memiliki kesenjangan pendapatan pensiun yang lebih kecil dibandingkan dengan pria, sementara di Jerman Barat, kesenjangan ini jauh lebih besar, mencerminkan pola kerja yang berbeda sepanjang hidup mereka.

Tekanan pada Orang Tua Muda

Ketika berusaha menyeimbangkan karir dan keluarga, orang tua muda di seluruh Jerman — terutama para ibu — menghadapi tekanan yang serupa. Beban ini bisa sangat besar, dan hal ini berdampak pada kesehatan mental mereka. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Allmendinger mengamati adanya polarisasi yang meningkat di antara perempuan yang tidak lagi mampu menjalani keseimbangan yang konstan. Beberapa memilih untuk bergabung dengan gerakan ‘tradwife’ dan memilih untuk tinggal di rumah sepenuhnya, sementara yang lain fokus sepenuhnya pada karir mereka dan memilih untuk tidak memiliki anak. “Meskipun ini bukan mayoritas,” katanya, “ini adalah tren yang semakin berkembang.”

Kesimpulan

Kesetaraan gender di tempat kerja dan dalam kehidupan rumah tangga adalah isu penting yang perlu diatasi secara global, termasuk di Indonesia. Mengambil inspirasi dari negara-negara yang telah berhasil menyusun kebijakan yang mendukung kesetaraan, diharapkan masa depan yang lebih adil dapat terwujud bagi perempuan di seluruh dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *.

*
*
You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>