Iran menggambarkan konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat sebagai “perang eksistensial”. Hal ini disampaikan oleh Saeed Khatibzadeh, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, saat berbicara dalam konferensi Raisina Dialogue 2026 di New Delhi pada 6 Maret 2026.
Pernyataan Khatibzadeh di Raisina Dialogue
Khatibzadeh menuduh AS melakukan serangan terhadap Iran berdasarkan kebohongan dan disinformasi. Dalam pidatonya, ia menyatakan, “Ini adalah perang eksistensial bagi Iran, yang memaksa kami untuk merespons dari mana pun serangan Amerika berasal.” Ia berbicara di hadapan para diplomat dari berbagai negara yang hadir dalam acara tersebut.
Perbandingan dengan Reality Show
Khatibzadeh juga membandingkan perang antara AS dan Israel melawan Iran dengan sebuah “acara realitas TV”, mengklaim bahwa serangan yang dilancarkan oleh AS merupakan pilihan, meskipun telah ada kemajuan dalam negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Situasi Selat Hormuz
Lebih lanjut, Khatibzadeh menyatakan bahwa Iran tidak menutup Selat Hormuz, tetapi kapal-kapal yang dimiliki oleh AS, Israel, atau negara-negara yang membantu mereka tidak diizinkan untuk melintasi selat tersebut. Ia mengungkapkan bahwa lalu lintas melalui selat itu telah turun hingga 90% sejak konflik dimulai.
Konflik di Timur Tengah
Saat ditanya mengenai serangan terhadap negara lain di Timur Tengah, Khatibzadeh menegaskan bahwa Iran berusaha mencegah konflik meluas ke seluruh kawasan, tetapi mereka tidak memiliki pilihan selain menyerang pangkalan-pangkalan AS, di mana pun lokasi mereka.
Klaim Perubahan Rezim
Menanggapi klaim mengenai upaya perubahan rezim di Iran, Khatibzadeh menyatakan, “Presiden Trump meminta perubahan kepemimpinan di Iran, sementara ia bahkan tidak bisa menunjuk walikota New York… Bisakah Anda bayangkan pendekatan kolonial ini? Sementara ia ingin melihat demokrasi di negaranya sendiri, ia ingin menggulingkan presiden Iran yang terpilih secara demokratis.”
Dampak terhadap Indonesia
Konflik ini tidak hanya berdampak pada Iran dan AS, tetapi juga dapat mempengaruhi situasi geopolitik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan ketegangan yang terus meningkat, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar berpotensi terpengaruh oleh opini publik dan kebijakan luar negeri dalam menghadapi situasi ini.
Kesimpulan
Ketegangan antara Iran dan AS menunjukkan bagaimana kepentingan geopolitik global dapat mempengaruhi stabilitas regional. Di tengah semua ini, suara diplomasi dan dialog menjadi sangat penting untuk menghindari eskalasi lebih lanjut dan mempertahankan perdamaian di kawasan.


