Jaksa federal Amerika Serikat sedang menyelidiki kemungkinan hubungan antara Presiden Kolombia Gustavo Petro dan pengedar narkoba, menurut laporan media. Hubungan bilateral antara AS dan Kolombia telah mengalami ketegangan selama masa jabatan kedua Donald Trump.
Penyelidikan Terhadap Gustavo Petro
Petro telah ditunjuk sebagai “target prioritas” oleh Badan Penegakan Narkotika AS (DEA), menurut laporan dari kantor berita Associated Press. Berdasarkan catatan DEA, Petro telah muncul dalam berbagai penyelidikan yang dimulai sejak 2022.
Menurut The New York Times, Petro saat ini sedang dalam penyelidikan kriminal oleh setidaknya dua kantor jaksa federal AS. Jaksa yang terlibat berasal dari wilayah Brooklyn dan Manhattan, New York.
Detail Penyelidikan
Penyelidik dilaporkan sedang mencari tahu apakah Petro pernah bertemu dengan pengedar narkoba dan apakah kampanye pemilihannya meminta sumbangan dari mereka. Menanggapi berita ini, Petro menyatakan di media sosial X, “Saya tidak pernah berbicara dengan pengedar narkoba dalam hidup saya.”
Dia juga menambahkan bahwa dia “selalu” memerintahkan manajer kampanye pemilihannya untuk tidak menerima sumbangan dari “bankir maupun pengedar narkoba.” Namun, kantor berita Reuters mengutip sumber yang akrab dengan masalah ini yang menyebutkan bahwa “tidak ada penyelidikan yang secara khusus terfokus pada [Petro].” Sumber tersebut mengatakan bahwa perilaku presiden Kolombia itu muncul sebagai bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung mengenai narco-terorisme oleh jaksa di New York.
Penolakan Petro Terhadap Tuduhan
Petro telah berulang kali membantah tuduhan terkait perdagangan narkoba, terutama setelah Trump menyebutnya sebagai “pemimpin narkoba ilegal” dan Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadapnya pada tahun 2025, tanpa memberikan bukti untuk dugaan hubungan tersebut. Trump pernah menyebut Petro sebagai “orang sakit” dan “hebat” dalam berbagai kesempatan.
Ketegangan Hubungan AS-Kolombia
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Kolombia semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir akibat tindakan keras pemerintahan Trump terhadap penyelundup narkoba di Amerika Latin. Trump sering berselisih dengan pemimpin sayap kiri, Petro, yang terpilih pada tahun 2022. Pada bulan Januari tahun ini, Trump menyebut Petro sebagai “orang sakit,” menuduhnya telah memperburuk perdagangan narkoba kokain ke AS.
Pernyataan tersebut muncul setelah Petro secara keras mengkritik AS terkait penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Namun, terdapat tanda-tanda bahwa hubungan mereka mulai membaik. Setelah pertemuan antara kedua pemimpin di Gedung Putih pada bulan Februari, Trump menggambarkan rekan sejawatnya dari Kolombia sebagai “hebat.”
Dampak bagi Indonesia
Kolombia merupakan salah satu produsen utama kokain di dunia. Amerika Serikat dan pemerintah Kolombia telah menjadi mitra dalam upaya mengurangi perdagangan narkoba ilegal di negara dan wilayah tersebut selama beberapa dekade. Dengan ketegangan yang ada, Indonesia sebagai negara yang juga berjuang melawan penyelundupan narkoba perlu mewaspadai dampak dari hubungan yang memburuk antara AS dan Kolombia, terutama dalam hal kerjasama internasional dalam penanganan narkoba.
Kesimpulan
Penyelidikan terhadap Presiden Kolombia Gustavo Petro oleh pihak berwenang AS menimbulkan pertanyaan serius mengenai integritas kepemimpinannya dan kemungkinan dampaknya terhadap hubungan bilateral. Sementara Petro membantah semua tuduhan, ketegangan yang ada bisa mempengaruhi upaya internasional dalam memerangi perdagangan narkoba, termasuk bagi negara-negara seperti Indonesia yang juga berhadapan dengan masalah serupa.


