Panggilan untuk Hapus Pajak Makanan di Jerman di Tengah Krisis Ekonomi
Di tengah lonjakan harga bahan bakar yang kian mengkhawatirkan, seruan untuk menghapus pajak pertambahan nilai (PPN) atas makanan semakin menguat di Jerman. Terutama, pajak ini dianggap memberatkan bagi makanan sehat seperti buah-buahan, sayuran, produk susu, daging, roti, pasta, nasi, dan telur.
Panggilan dari Partai Sosial Demokrat
Sayap bisnis Partai Sosial Demokrat (SPD), yang merupakan mitra junior dalam pemerintahan saat ini, telah mengajukan tuntutan untuk menghapus pajak tersebut. Esra-Leon Limbacher, seorang anggota parlemen dan kepala sayap bisnis, menyatakan kepada surat kabar Bild, “Kita tidak dapat mengendalikan harga minyak global, tetapi kita bisa memastikan bahwa biaya energi dan makanan yang meningkat tidak membebani dompet rakyat Jerman secara tidak terkendali.”
Limbacher juga menekankan bahwa akses anak-anak terhadap pola makan sehat seharusnya tidak bergantung pada kondisi keuangan orang tua.
Dukungan dari Serikat Pekerja
Yasmin Fahimi, kepala Konfederasi Serikat Pekerja Jerman (DGB), menyatakan dukungannya terhadap seruan tersebut. Menurutnya, penghapusan pajak yang saat ini sebesar 19% untuk sebagian besar barang, dan 7% untuk beberapa jenis makanan, akan sangat membantu keluarga berpenghasilan rendah, jauh lebih efektif dibandingkan pemotongan pajak penghasilan.
Alternatif Pembiayaan untuk Penghapusan Pajak
Untuk membiayai langkah tersebut, Fahimi mengusulkan kepada harian Tagesspiegel, “Jerman bisa memperkenalkan PPN yang jauh lebih tinggi untuk barang-barang mewah, seperti jam tangan yang sangat mahal, yacht, perhiasan, atau mobil mewah.”
Dukungan dari Partai CDU
Panggilan untuk menghapus pajak makanan ini juga didukung oleh Jens Spahn, pemimpin parlementer dari Partai Kristen Demokrat (CDU) yang dipimpin oleh Kanselir Friedrich Merz. Ia menyatakan bahwa upaya ini “akan memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu” untuk mengatasi lonjakan harga akibat perang di Iran.
Dampak di Indonesia
Seruan untuk menghapus pajak makanan ini memberikan gambaran penting tentang bagaimana kebijakan pajak dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Di Indonesia, kita juga menghadapi tantangan serupa terkait harga pangan dan akses masyarakat terhadap makanan sehat. Jika pemerintah Indonesia dapat mengambil pelajaran dari langkah Jerman ini, upaya untuk mengurangi beban pajak pada makanan sehat bisa menjadi langkah positif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
Dengan meningkatnya tekanan untuk menghapus pajak makanan di Jerman, jelas bahwa masalah ini bukan hanya sekadar isu lokal, tetapi juga dapat memberikan inspirasi bagi negara lain, termasuk Indonesia, untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih ramah terhadap rakyat dalam menghadapi krisis ekonomi. Menghapus pajak pada makanan sehat bisa menjadi langkah strategis dalam mendorong pola makan yang lebih baik bagi masyarakat.



