Laura Müller menjadi insinyur balap wanita pertama di Formula 1, memegang peranan penting dalam keputusan teknis untuk pembalap Haas, Esteban Ocon. Pada Hari Perempuan Internasional, Tikungan 6 di sirkuit Albert Park, Melbourne akan dinamai sesuai namanya sebagai penghormatan atas pencapaiannya.
Sejak kecil, Laura Müller memiliki impian untuk menjadi pembalap Formula 1, terinspirasi oleh legenda Michael Schumacher. Dalam sebuah wawancara pada Agustus 2025, Müller menceritakan, “Saya selalu menonton Formula 1 setiap hari Minggu,” namun ketika itu, tidak ada yang menganggapnya serius. Tanpa pengetahuan tentang cara memulai balap karting, karirnya di dunia motorsport pun terasa hanya sekedar mimpi.
Awal Karir di Australia
Müller kemudian menemukan jalannya ke Formula 1, menjadi insinyur balap wanita pertama di tahun 2025. Peran ini menjadikannya penghubung utama antara pembalap asal Prancis, Esteban Ocon, dan mobilnya di Tim Haas. Keberhasilannya ini diraih melalui kerja keras, bakat, dan perhatian detail yang tinggi.
Awal perjalanannya dimulai di Australia, saat berusia 18 tahun, Müller memutuskan untuk pergi ke negeri kangguru setelah lulus SMA. “Saya berpikir: Jika saya tidak bisa menjadi pembalap Formula 1, saya akan bekerja di Formula 1,” ujarnya. Ini menjadi awal dari jalur karir yang sangat fokus.
Pendidikan dan Pengalaman Awal
Setelah menyelesaikan studi teknik mesin, Müller mengawali pengalaman praktisnya sebagai insinyur di tahun 2014, dimulai dari magang di DTM (German Touring Car Masters). Ia kemudian bekerja di balap ketahanan, DTM, Formula Series Internasional, dan Kejuaraan Mobil Stock Brasil.
Menjadi Insinyur Balap Wanita Pertama di F1
Pada tahun 2022, Müller mengambil langkah konkret pertamanya menuju F1 dengan melamar kepada Andreas Seidl, mantan kepala tim McLaren. Meskipun membuat kesan positif, restrukturisasi internal menghalanginya untuk bergabung. Namun, tim Haas merekrutnya sebagai insinyur performa, dengan tugas utama untuk mengoptimalkan pengaturan dan performa mobil di lintasan.
Impresif dengan etos kerjanya, kepala tim Haas, Ayao Komatsu, memberikan kesempatan besar yang diidam-idamkannya. Sejak saat itu, Müller menjadi kontak terdekatnya, membuat keputusan strategis selama balapan, memeriksa trek, menganalisis data, dan menentukan pengaturan mobil.
Pengambilan Keputusan yang Cepat
Walaupun terkenal di F1, Müller lebih memilih fokus pada pekerjaannya daripada mencari sorotan. “Tanggung jawab saya adalah membuat keputusan untuk mobil saya,” ungkapnya. “Saya menerima informasi dari berbagai departemen: dari tim aerodinamika, tim ban, insinyur performa, hingga dinamika kendaraan. Saya berusaha menerjemahkan informasi ini menjadi keputusan,” tambahnya. “Saya harus membuat banyak keputusan, dan banyak di antaranya harus diambil dengan sangat cepat.”
Keputusan yang diambil Müller memiliki dampak langsung pada performa Ocon di lintasan. “Keputusan selalu lebih baik daripada tidak ada keputusan sama sekali. Jika salah, ya sudah, tetapi saya bisa melakukannya karena saya sudah memiliki pengalaman yang cukup di motorsport,” jelasnya.
Tantangan dan Harapan di Musim Pertama
Meski musim pertama mereka bersama tidak berjalan sesuai rencana, Ocon, yang bergabung dengan Haas dari tim Alpine di awal 2025, berharap dapat meraih kesuksesan lebih di balapan mendatang. “Bekerja dengan Laura itu luar biasa. Dia benar-benar insinyur yang luar biasa,” puji Ocon setelah beberapa balapan pertama musim ini.
Kesimpulan
Laura Müller adalah contoh nyata bagaimana perempuan dapat memecahkan batasan dalam dunia yang didominasi pria. Dengan pencapaian yang diraihnya sebagai insinyur balap wanita pertama di Formula 1, ia telah membuka jalan bagi generasi pembalap dan insinyur wanita di masa depan. Keberhasilannya tidak hanya menjadi kebanggaan bagi komunitas motorsport, tetapi juga menginspirasi banyak wanita di Indonesia dan di seluruh dunia untuk mengejar impian mereka di bidang yang mereka cintai.


