Dampak Perang Iran Terhadap Sektor Pertahanan AS
Perusahaan pertahanan AS kini diminta untuk meningkatkan produksi menyusul permintaan baru akibat perang di Iran. Situasi ini semakin memperjelas ketegangan yang telah ada antara mereka dan pemerintahan Trump.
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengundang eksekutif dari tujuh kontraktor pertahanan besar ke Gedung Putih. Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya pemerintahannya untuk memperkuat sektor pertahanan mengingat meningkatnya intensitas konflik di Iran.
Ketegangan di Sektor Pertahanan
Konflik ini telah mengungkapkan kelemahan dalam sektor pertahanan AS, terutama terkait dengan persediaan rudal jarak jauh dan interceptor pertahanan udara. Ada kekhawatiran mengenai kapasitas sektor ini untuk meningkatkan produksi jika konflik berkepanjangan terjadi.
Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa ia telah membahas “produksi dan jadwal produksi” dengan perusahaan-perusahaan tersebut, termasuk Lockheed Martin, RTX (Raytheon), BAE Systems, Boeing, Honeywell Aerospace, dan Northrop Grumman.
Namun, laporan menunjukkan bahwa negosiasi antara Pentagon dan kontraktor pertahanan terbesar di negara itu untuk produksi baru tidak berjalan secepat yang diharapkan oleh Gedung Putih, di tengah ketegangan yang ada.
Ketidakpuasan Trump
Byron Callan, seorang analis saham pertahanan di Capital Alpha Partners di Washington, mengatakan bahwa kritik yang terus menerus terhadap perusahaan pertahanan AS adalah bahwa mereka terlalu “hati-hati” dan lebih fokus pada pengembalian dividen kepada pemegang saham daripada melakukan reinvestasi.
“Ada kritik bahwa kontraktor pertahanan terbesar di AS lamban dalam merespons kebutuhan, tidak melakukan investasi, dan tidak mengambil risiko,” ujarnya kepada DW.
Sebelum AS mulai melakukan serangan udara terhadap Iran, ketegangan sudah memuncak antara pemerintahan Trump dan para pemasok pertahanan terbesar di AS. Trump secara rutin mengkritik perusahaan pertahanan yang dinilainya lebih memprioritaskan dividen pemegang saham dan gaji eksekutif dibandingkan investasi dalam infrastruktur dan produksi.
Dia juga menyoroti perusahaan yang gagal memenuhi tenggat waktu produksi dan melebihi anggaran. RTX, produsen utama rudal dan interceptor pertahanan udara yang digunakan oleh militer AS di konflik Iran, pernah disebutnya sebagai “yang paling lambat dalam meningkatkan volume produksi,” dan “yang paling agresif dalam pengeluaran untuk pemegang saham dibandingkan dengan kebutuhan militer AS.”
Trump mengancam akan menghapus kontrak pemerintah kepada mereka jika tidak meningkatkan investasi di pabrik-pabrik.
Pada bulan Januari, Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang menyatakan bahwa perusahaan pertahanan “tidak diperbolehkan dalam bentuk apa pun untuk membayar dividen atau membeli kembali saham, sampai mereka mampu memproduksi produk unggulan, tepat waktu dan sesuai anggaran.”
Permintaan Produksi yang Meningkat
Pemerintahan Trump juga terlibat dalam perseteruan sengit dengan perusahaan rintisan AI, Anthropic, yang merupakan pemasok militer AS, karena menolak memberikan akses penuh kepada militer terhadap chatbot Claude-nya.
Trump secara khusus menuduh perusahaan-perusahaan menghabiskan terlalu sedikit untuk memperluas kapasitas pabrik, mengutamakan kepuasan investor dengan mekanisme seperti pembelian kembali saham.
Pembelian kembali saham terjadi ketika perusahaan menggunakan keuntungan untuk membeli kembali saham mereka sendiri, mengurangi jumlah saham yang tersedia di publik, dan berpotensi meningkatkan nilai saham yang tersisa.
Pertanyaan Anggaran Pertahanan
Sistem pertahanan rudal buatan AS, seperti PAC3, saat ini sangat diminati. Permintaan dari sekutu-sekutu AS untuk senjata buatan AS meningkat seiring dengan konflik di Ukraina dan Gaza, dan Trump sebelumnya mengkritik perusahaan-perusahaan karena tidak memenuhi permintaan dengan cukup cepat.
“Kami memiliki banyak orang yang ingin memiliki jet tempur F-35, dan pengirimannya terlalu lama baik untuk sekutu maupun untuk diri kami sendiri,” ujarnya. “Satu-satunya cara mereka dapat memenuhi pengiriman adalah jika mereka membangun pabrik baru. Mereka tidak ingin membangun pabrik baru karena biayanya mahal.”
Philip Sheers, rekan asosiasi di Program Pertahanan di Center for a New American Security, menyatakan bahwa investasi dalam basis industri pertahanan AS semakin meningkat, khususnya dalam amunisi dan pertahanan udara.
Kesimpulan
Perang di Iran membawa dampak signifikan bagi sektor pertahanan AS, memaksa perusahaan-perusahaan untuk mempertimbangkan kembali strategi investasi dan produksi mereka. Dengan meningkatnya permintaan, penting bagi mereka untuk beradaptasi dan memenuhi kebutuhan militer, tidak hanya untuk kepentingan mereka sendiri tetapi juga bagi stabilitas keamanan global.









