Yen Jepang Menguat Pasca Data Pekerjaan AS yang Mengecewakan
LONDON, 7 Agustus: Yen Jepang mengalami lonjakan signifikan terhadap dolar AS pada hari Jumat setelah rilis laporan ketenagakerjaan AS yang mengecewakan. Trader menjadi waspada terhadap kemungkinan intervensi, hanya beberapa hari setelah pihak berwenang Jepang dan AS bersama-sama turun tangan di pasar valuta asing untuk memperkuat mata uang Jepang yang terus melemah.
Dolar AS sempat turun hingga 1,1 persen menjadi 156,68 yen dan terakhir diperdagangkan di angka 157,16, jauh dari rekor tertinggi 40 tahun yang mencapai 163,99 yen pada bulan Juli. Ketidakjelasan keterlibatan pihak berwenang Jepang dalam pergerakan ini masih menjadi tanda tanya, meskipun analis menyatakan bahwa lemahnya data pekerjaan bisa menjadi alasan untuk menjual dolar.
Lee Hardman, analis mata uang senior di MUFG, mengatakan, “Skala penurunan yang terlihat pada jumlah pekerjaan menunjukkan bahwa wajar jika dolar mengalami penurunan. Lihat saja kurva imbal hasil AS yang pendek — pergerakan mata uang ini tampak didorong oleh faktor fundamental.” Ia merujuk pada penurunan tajam imbal hasil Treasury 2 tahun yang menunjukkan reaksi pasar terhadap data pekerjaan yang buruk.
“Sangat jarang kita melihat angka negatif seperti ini, jadi ini adalah kejutan besar yang pastinya akan mengurangi harapan terhadap kebijakan The Fed. Kami memperkirakan akan ada reaksi signifikan dan penjualan dolar yang luas,” tambahnya.
Berdasarkan laporan dari Biro Statistik Tenaga Kerja, nonfarm payrolls mengalami penurunan sebesar 23.000 pekerjaan bulan lalu, setelah sebelumnya direvisi turun dari penambahan 20.000 pekerjaan di bulan Juni. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan adanya penambahan pekerjaan sebanyak 80.000, setelah sebelumnya dilaporkan ada kenaikan 57.000 di bulan Juni. Proyeksi berkisar antara 10.000 hingga 140.000 pekerjaan baru.
Setelah rilis data ini, Menteri Keuangan Jepang menyatakan bahwa Washington dan Tokyo telah melakukan komunikasi yang intensif dan tidak akan ragu untuk melakukan intervensi jika diperlukan. Ancaman intervensi ini semakin menguat setelah Jepang dan Amerika Serikat melakukan intervensi terkoordinasi untuk membeli yen pada hari Jumat lalu, mengindikasikan tindakan bilateral yang jarang terjadi untuk menghentikan penurunan nilai yen.
Pergerakan nilai tukar ini memiliki relevansi bagi Indonesia, mengingat ketergantungan ekonomi terhadap perdagangan internasional. Kenaikan nilai yen dapat memengaruhi harga barang impor dan kestabilan ekonomi lokal.








