Siprus menginginkan “diskusi terbuka” mengenai masa depan basis militer Inggris di negara tersebut. Insiden drone pada awal Maret telah memicu kembali perdebatan lama di pulau yang secara de facto terbagi ini.
Ketika Anda menghabiskan sehari di bawah sinar matahari Siprus, Anda akan menemukan beberapa tanda halus bahwa pulau Mediterania ini pernah menjadi koloni Inggris. Misalnya, mobil harus dikemudikan di sisi kiri jalan, colokan listrik memiliki tiga lubang, berbeda dengan sebagian besar bagian Uni Eropa lainnya, dan Anda akan menemukan banyak orang yang berbicara bahasa Inggris di pantai atau di pegunungan.
Namun, jika Anda berkendara sekitar setengah jam dari Limassol, pusat pariwisata, Anda akan menemukan sesuatu yang jauh lebih nyata: wilayah Inggris yang berdaulat dan pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris.
Pangkalan ini adalah salah satu dari dua bagian tanah Siprus yang tetap secara resmi Inggris berdasarkan perjanjian 1960 yang mengatur syarat-syarat kemerdekaan Siprus. Ketika sebuah drone buatan Iran jatuh di pangkalan Akrotiri di awal perang antara AS-Israel melawan Iran, hal ini memicu debat yang telah lama mengemuka di Siprus.
Ketakutan Terhadap Risiko yang Dihadapi Siprus
Pejabat Siprus mencurigai drone yang jatuh pada awal Maret mungkin diluncurkan dari Lebanon oleh kelompok Hezbollah yang didukung Iran, setelah serangan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Milisi tersebut pernah mengancam Republik Siprus sebelumnya karena hubungan dekatnya dengan Israel.
Meski insiden tersebut menyebabkan kerusakan minimal dan tidak ada korban di pangkalan, hal ini memicu kemarahan di kalangan beberapa warga lokal yang merasa bahwa keterkaitan Inggris dengan Washington menjadikan mereka sasaran. “Kami menjadi target sebagai negara karena adanya pangkalan tersebut. Mungkin sudah saatnya untuk mempertimbangkan kembali statusnya. Dan mungkin sudah saatnya bagi mereka untuk pergi,” kata Panayiotis, seorang ayah dari tiga anak, kepada DW di tepi pantai Limassol. “Mereka menempatkan kami dalam bahaya,” tambah Michalis, seorang penduduk Limassol.
Panggilan untuk Diskusi Terbuka tentang Basis Inggris
Presiden Siprus, Nikos Christodoulides, yang tidak dikenal karena sering memicu perselisihan diplomatik, juga menyatakan keinginannya untuk mengadakan “diskusi terbuka dan jujur” tentang masa depan pangkalan-pangkalan tersebut “setelah situasi di Timur Tengah ini selesai.”
Christodoulides menyebut pangkalan tersebut sebagai “konsekuensi kolonial” dalam komentarnya kepada wartawan di Brussels pada KTT Uni Eropa minggu lalu. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin Uni Eropa lainnya menandatangani pernyataan yang mendukung keinginan Siprus untuk membuka percakapan dengan Inggris.
Pemerintah Inggris telah membantah kritik terhadap keberadaan mereka, yang juga menjadi sumber pekerjaan bagi ribuan orang Siprus. “Basis kami di Siprus memainkan peran penting dalam mendukung keselamatan warga Inggris dan sekutu kami di Mediterania dan Timur Tengah,” kata seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris kepada DW.
“Kami telah mengerahkan kemampuan defensif tambahan ke Siprus sejak Januari, termasuk sistem radar, sistem kontra-drone, jet F-35, pertahanan udara berbasis darat, dan 400 personel tambahan untuk pertahanan udara,” tambahnya.
Pembangunan Militer: Uji Coba untuk Pertahanan Uni Eropa?
Tidak semua kehadiran militer asing di Siprus dipandang dengan kecurigaan. Setelah insiden drone, beberapa negara Uni Eropa, termasuk Prancis, Spanyol, Italia, Belanda, dan Yunani, mengirimkan kapal perang dan aset militer lainnya untuk memperkuat pertahanan di sekitar pulau.
“Ini adalah pertama kalinya Uni Eropa terlihat seperti sebuah aliansi yang sebenarnya,” kata ilmuwan politik Michalis Kontos kepada DW. Kontos menyatakan bahwa dukungan Uni Eropa terasa lebih penting di Republik Siprus, mengingat negara ini bukan anggota NATO.
“Ada semacam komunikasi dan kontak sebelum pengiriman aset-aset ini mengenai jenis sistem pertahanan yang harus dikirim setiap negara ke lepas pantai Siprus,” ujarnya. Kontos menambahkan bahwa pengiriman tersebut dapat dilihat sebagai semacam “uji coba” untuk pertahanan kolektif Eropa.
Kesimpulan
Insiden drone dan reaksi yang ditimbulkan telah membuka kembali perdebatan seputar kehadiran basis militer Inggris di Siprus. Dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, penting bagi Siprus untuk mengevaluasi kembali posisinya dan hubungan dengan negara-negara besar seperti Inggris dan AS, demi keselamatan dan kedaulatan mereka.