Dukungan Trump untuk Kurdi Iran: Tantangan dan Peluang
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini memberikan dukungan kepada pasukan Kurdi Iran untuk melawan rezim Teheran. Namun, serangan dari pasukan Kurdi dapat menimbulkan tantangan baru baik di Iran maupun di kawasan sekitarnya.
Dalam pernyataannya kepada kantor berita Reuters, Trump menyatakan bahwa akan “menakjubkan” jika pasukan Kurdi yang berbasis di Irak melancarkan serangan terhadap pemerintah Islam di Teheran. “Saya pikir itu luar biasa bahwa mereka ingin melakukannya, saya mendukungnya,” ujar Trump.
Sumber yang tidak terkonfirmasi menyebutkan bahwa Trump telah berbicara dengan beberapa pemimpin Kurdi dalam beberapa hari terakhir. Selain itu, ada spekulasi bahwa Badan Intelijen Pusat AS (CIA) mungkin telah memasok senjata kepada kelompok Kurdi selama beberapa bulan terakhir. Namun, pihak Gedung Putih membantah laporan tersebut.
Situasi Kurdi di Iran
Kurdi merupakan salah satu kelompok etnis tanpa negara terbesar di dunia, dengan jumlah sekitar 30 juta jiwa yang tersebar di Irak, Iran, Suriah, dan Turki. Masyarakat Kurdi memiliki bahasa dan dialek mereka sendiri, dan mayoritas menganut agama Islam Sunni.
Di Iran, terdapat sekitar 9 juta warga Kurdi, yang mayoritas tinggal di sepanjang perbatasan barat negara tersebut dengan Irak dan Turki. Mereka memiliki sejarah panjang mengenai ketidakpuasan dan pemberontakan terhadap rezim yang kini berkuasa maupun monarki yang sebelumnya ada.
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak Kurdi Iran yang melarikan diri ke Irak untuk menghindari penindasan di tanah air mereka. Kini, beberapa pemimpin Kurdi Iran melihat kesempatan untuk mendapatkan otonomi serupa dengan yang dimiliki oleh Kurdi di Irak utara.
Apakah Pasukan Kurdi Akan Berperan?
Hanna Voß, seorang ahli Timur Tengah di Friedrich Ebert Foundation di Beirut, menganggap bahwa diskusi mengenai pejuang Kurdi di Iran harus dilihat dalam konteks situasi militer saat ini. “Sudah jelas bagi pihak-pihak terkait bahwa tujuan mereka tidak bisa dicapai hanya dari udara,” katanya.
Ini membawa pertanyaan klasik mengenai “boots on the ground” atau kehadiran pasukan di darat. Pejabat AS telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak ingin mengerahkan pasukan darat ke Iran. Dalam konteks ini, kelompok Kurdi mungkin menjadi kekuatan darat de facto.
Ribuan pejuang Kurdi sudah berada di sepanjang perbatasan sekitar 1.500 kilometer antara Iran dan Irak. Beberapa pengamat percaya bahwa mereka dapat melangkah ke Iran dengan dukungan serangan udara dari AS dan Israel.
Trump telah berjanji kepada para pemimpin Kurdi untuk memberikan “perlindungan udara yang luas,” lapor Washington Post, mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut. Angkatan udara Israel juga telah melakukan serangan terhadap pos-pos militer dan polisi di barat Iran.
Tantangan dan Risiko Geopolitik
Namun, ada keraguan terkait kemampuan militer kelompok Kurdi. Seorang perwakilan pemerintah AS mengatakan kepada media Axios bahwa dalam skenario terburuk, mereka bisa menjadi “korban perang”.
Hessam Habibi Doroh, seorang peneliti konflik di Institute for Peace Support and Conflict Management (IFK) di Wina, menyebut bahwa kelompok Kurdi adalah yang “terkuat secara politik dan militer” dibandingkan dengan kelompok lainnya di wilayah perbatasan Iran karena sejarah panjang konflik politik dan militer mereka. Namun, ia juga menekankan bahwa kelompok-kelompok ini terorganisir dengan cara yang sangat berbeda dan tidak seragam, meskipun memiliki jaringan yang kuat.
Harapan untuk Otonomi, Bukan Pemisahan
Banyak politisi Kurdi menegaskan bahwa mereka tidak mencari pemisahan dari Iran. Hassan Sharafi dari Partai Demokrat Kurdistan Iran menyatakan bahwa Kurdi Iran memandang diri mereka sebagai bagian dari negara tersebut. “Negara mereka adalah Iran,” tegaskannya.
Ketika Kurdi membicarakan demokrasi atau hak-hak setara, Sharafi menambahkan, mereka sering dituduh sebagai separatis. Hal ini menunjukkan kompleksitas situasi yang dihadapi oleh komunitas Kurdi di Iran dan tantangan yang mereka hadapi dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
Dengan demikian, situasi ini tidak hanya mempengaruhi Iran, tetapi juga dapat berdampak pada stabilitas kawasan, termasuk Indonesia yang memiliki diaspora Kurdi dan kepentingan dalam stabilitas Timur Tengah.









